Sebelum kita bahas cerita ini lebih jauh, gue mau flashback sedikit. Kadang, seru juga buat inget-inget gimana semuanya dimulai, kayak ngebalikin halaman buku ke bagian pertama. Jadi, tepatnya di tanggal 16 Juli 2018, itulah hari pertama gue melangkah masuk ke SMA Negeri 1 Palimanan. Masih kebayang suasananya seragam baru, teman-teman baru, bahkan aroma khas ruangan kelas yang seakan penuh sama cerita yang belum tertulis.

Awal mula itu campur aduk, antara excited sama sedikit deg-degan. Pemandangan yang masih asing, wajah-wajah baru, dan suasana sekolah yang beda dari sebelumnya. Gue ngerasa ini bukan sekadar sekolah baru. Ini kayak awal dari babak baru yang bakal ngebentuk gue ke depannya. Masa SMA, katanya, adalah masa-masa paling seru, yang paling ngena, yang penuh warna. Dan gue pun ikut penasaran, kira-kira apa aja sih cerita yang bakal gue lalui di sini?
Menjadi Anak Extrovert di Lingkungan Baru
Dari sini, perjalanan gue di SMA mulai terbuka lebar. Di sekolah ini, gue punya kepribadian yang lumayan gampang bergaul. Sebagai anak extrovert, gue nggak butuh waktu lama buat mulai ngobrol sama orang baru, dan setiap orang yang gue temui, gue sapa kayak udah lama kenal. Ternyata, SMA ini bukan sekadar nambah teman, tapi juga ngasih pelajaran lewat setiap obrolan dan pertemuan.
Awalnya, gue cuma punya tujuan simpel: pengen punya banyak teman. Tapi seiring berjalannya waktu, perjalanan ini jauh lebih dari sekadar nyari teman. Ini jadi perjalanan gue buat nyari jati diri. Di sini gue mulai aktif, ikutan OSIS, Futsal, dan bahkan gue ikutin sampai ke organisasi luar sekolah kaya Forum OSIS se-Jawa Barat. Gue mulai kenal lebih banyak orang, nambah pengalaman, dan belajar banyak hal yang nggak diajarin di kelas.
Lupa Tanggung Jawab sebagai Siswa

Tapi seiring makin dalam gue di dunia organisasi, gue mulai lupa dengan hal-hal penting lainnya. Saking sibuknya, gue malah lupa buat belajar. Baru kerasa beratnya pas masuk kelas 12, apalagi saat pandemi melanda. Di sini lah mulai ada kesadaran kalau gue harus balance antara mengejar relasi sama tetap fokus di akademik.
Di titik terendah itu, gue nemuin lagi tujuan gue. Pelan-pelan gue bangkit, belajar nge-manage waktu, dan paham kalau setiap momen adalah kesempatan. Di sinilah gue nemuin prinsip baru: selalu ada waktu, bahkan di tengah-tengah kesibukan sekalipun.
Dengan ini, gue berharap bisa kasih sedikit inspirasi buat kalian yang mungkin juga lagi di fase ini. Masa SMA emang penuh warna, dan perjalanan ini jadi bukti kalau kita harus berani ngejar mimpi kita.
0 Komentar