Perjalanan hidup gue terus berlanjut, dan kali ini gue mau cerita tentang pengalaman magang pertama yang nggak akan gue lupakan. Bayangin aja, gue yang biasanya bangun pagi udah males-malesan buat ngampus, mandi aja asal-asalan, dan semangat sering cuma separuh wkwk… Sekarang (3 Juli 2023) harus bangun pagi buat kerja beneran! Bedanya, kali ini gue bangun bukan buat ngerjain tugas atau dengerin dosen ceramah, tapi buat siap-siap ke lokasi magang. Dan lokasinya? Di perusahaan semen terbesar di Indonesia! Yap, kalau kalian tahu semen tiga roda—yes, that’s the one!, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Perusahaan inilah yang produksi semen itu, dengan skala yang gede banget, seriusan.
Kebayang nggak, setiap hari harus masuk plant yang penuh dengan debu semen? Dari pagi sampai sore, debu itu nempel di baju, di rambut, dan bahkan kayaknya di paru-paru gue juga hahaha… Gue magang di cabang Cirebon, tepatnya di Plant 9 dan 10. Bayangin aja, meskipun ini cuma cabang, luasnya gila-gilaan, kayak seluas satu kota kecil! Dari area mining yang di mana mereka ngebom gunung buat ngambil material dasar, sampai area produksi yang terus ngehasilin semen, suasananya sibuk dan capek banget.
Gue masih ingat banget, gunung yang tadinya hijau dan penuh pepohonan pas gue kecil, sekarang berubah jadi kayak padang pasir. Gue tahu industri semen itu emang nggak main-main buat ukuran Indonesia, tapi ngeliat langsung gimana sebuah pegunungan bisa berubah begitu dalam waktu bertahun-tahun, itu bikin gue mikir. Bukan cuma soal bisnis, tapi juga soal dampak lingkungan dan gimana cara kita manage sustainability. Heavy stuff, right? But it’s the reality.
Nah, kerja di sini benar-benar ngajarin banyak hal baru. Gue jadi terbiasa dengan suasana diskusi yang serius bareng engineer dan bos-bos, yang semuanya terlihat kayak pro banget. Rasanya beda banget sama diskusi di kelas yang kadang cuma jadi ajang basa-basi atau ngobrol ngalor ngidul. Di sini, setiap kata itu ada maksud dan tujuannya, dan mereka nggak segan-segan kasih perintah yang straight to the point. Gue juga baru ngeh kalau kerja di industri ini tuh nggak cuma soal ngikutin instruksi, tapi juga harus paham kenapa kita ngelakuin sesuatu. Each step matters.
Selama 5 minggu magang, gue dapat banyak ilmu dan insight. Gue belajar soal teknologi-teknologi baru yang diterapin di plant ini, mulai dari mesin-mesin otomatis sampai sistem monitoring yang super canggih. Ternyata, di balik proses produksi semen yang kelihatannya simpel, ada banyak teknologi yang terlibat. Mulai dari proses crushing, grinding, sampai packing, semuanya diperhitungkan dengan matang dan harus presisi banget. Di sini, gue jadi tahu kalau dunia teknik itu nggak cuma soal otot, tapi juga soal otak.
Setelah masa magang selesai, berakhirlah petualangan gue yang penuh debu dan kerja keras itu, tapi tentu saja, ada satu babak baru yang nggak kalah melelahkan… yaitu laporan magang wkwk. Mungkin ini bisa dibilang bagian yang paling bikin mahasiswa kelimpungan tiap kali habis magang. Bayangin aja, setelah cape kerja, kita masih harus duduk dan ngetik laporan berlembar-lembar yang detilnya nggak boleh ada yang kelewat. Gue inget banget rasanya, udah capek, eh masih harus berhadapan sama keyboard dan layar laptop. “Oh no, not this again…” pikir gue setiap buka file laporan itu.
Nggak cukup dengan ngerjain laporan, laporan gue juga harus diseminarkan! Dan ini yang bikin tambah deg-degan, karena seminar ini nggak cuma buat internal kampus, tapi terbuka buat umum. Siapa aja bisa datang, dan gue harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul kapan aja dari audiens. Nervous? Of course! Tapi di sisi lain, ini juga jadi pengalaman seru yang ngasih gue gambaran soal gimana rasanya presentasi hasil kerja ke orang banyak. It’s a thrill and a challenge, all at once.
Singkat cerita, seminar gue berjalan cukup lancar meskipun sempat grogi di awal. Teman-teman gue juga datang buat ngasih support, dan mereka jadi cheer squad yang bikin suasana jadi lebih relax. Setelah seminar selesai, ada rasa lega dan puas yang nggak bisa dijelasin, karena gue akhirnya bisa melewati proses panjang dari mulai magang sampai laporan dan seminar ini.
Abis seminar itu, gue sempat ngobrol sama beberapa senior yang kerja bareng gue di plant. Mereka cerita banyak tentang suka dukanya kerja di industri ini, dan gue baru sadar kalau ternyata di dunia kerja kita harus siap buat terus belajar. Industri ini tuh always evolving, dengan teknologi yang selalu berubah, dan kalau kita nggak ikutan belajar, bisa ketinggalan. Menurut mereka, perkembangan teknologi ini bikin kerja jadi lebih mudah di satu sisi, tapi di sisi lain, kompetisi makin ketat. Setiap tahun pasti ada inovasi baru, dan sebagai engineer, kita harus bisa keep up.
Sekarang, setelah semua pengalaman ini, gue sering kepikiran. Nanti, kalau gue balik ke industri dengan pengalaman dan ilmu yang lebih matang, kira-kira kayak apa ya tantangan yang bakal gue hadapi? Kadang gue ngerasa excited, tapi di sisi lain juga ada perasaan nervous. But hey, that’s life, right? The journey continues…



0 Komentar